SMK Negeri 1 Pangkalpiang

Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 10 Juni 2010

MODUL KEWIRAUSAHAAN 13

MODUL
KEWIRAUSAHAAN SMK
PENGELOLAAN PROSES PRODUKSI/JASA
Penanggung Jawab :
Prof. Dr. H. Mohammad Ali, M.A
Pengembang dan Penelaah Model :
Dr. H. Ahman, M.Pd.
Drs. Ikaputera Waspada, M.M
Dra. Neti Budiwati, M.Si
Drs. Endang Supardi, M.Si
Drs. Ani Pinayani, M.M
Penulis :
Dra. Neti Budiwati, MSi.
Bekerjasama dengan :
LEMBAGA PENELITIAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2004
DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
13
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
1
MODUL
PENGELOLAAN PROSES
PRODUKSI/ JASA
NETI BUDIWATI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Modul tentang cara “Pengelolaan Proses Produksi/Jasa” ini membahas
mengenai berbagai permasalahan yang terkait dangan kegiatan produksi,
mulai dari perencanaan produksi, pelaksanaan, hingga penyimpanan hasil
produksi. Secara rinci modul ini akan membahas mengenai:
1. Pengertian Produksi, Produk dan Jasa
2. Perencanaan Produk dan Perencanaan Produksi
- Aspek-aspek perencanaan produksi
- Langkah-langkah perencanaan produksi
- Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan produksi
3. Pengendalian Kualitas Produk
- Pendekatan masukan
- Pendekatan proses
- Pendekatan keluaran
Pembahasan materi dalam modul ini untuk membantu Anda dalam
memahami pengetahuan praktis tentang apa dan bagaimana kegiatan
produksi, yaitu menjelaskan mengenai aspek-aspek yang harus disiapkan dan
dikelola dalam kegiatan produksi. Sehingga, materi yang diuraikan dalam
modul ini diharapkan bermanfaat bagi Anda calon wirausaha maupun bagi
13
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
2
para wirausaha, dalam merancang suatu kegiatan usaha yang terkait dengan
kegiatan menghasilkan produk melalui cara berpikir praktis yang cermat. Bila
seorang wirausaha sukses merancang kegiatan produksi dan mengelola
aspek-aspek yang terkait berarti ia telah meraih sebagian sukses usahanya.
B. Prasyarat
Untuk dapat memahami materi modul ini, terlebih dahulu sebaiknya Anda:
1. Menguasai materi sebelumnya tentang mengambil keputusan dan
menganalisis potensi pasar
2. Mencoba menempatkan diri Anda sebagai seorang wirausaha,
sehingga seolah-olah Anda dihadapkan pada situasi yang
sebenarnya.
C. Petunjuk Penggunaan Modul
a. Bagi Peserta Didik / Siswa
1. Sebelum Anda membaca dan memahami uraian materi, diharapkan
Anda membaca dan memahami terlebih dahulu prasyarat dan tujuan
mempelajari modul ini.
2. Sebaiknya Anda mencoba untuk menjawab terlebih dahulu soal “cek
kemampuan” pada bagian F Bab I ini.
3. Setelah Anda paham prasyarat dan tujuannya, usahakan untuk
membaca isi modul secara berurutan, jangan melompat-lompat.
Karena uraian materi sudah disusun sesuai dengan urutannya,
sehingga sebelum Anda benar-benar menguasai suatu materi, Anda
jangan dulu melanjutkan untuk memahami materi berikutnya.
4. Apabila Anda menemukan kesulitan dalam memahaminya, Anda dapat
mendiskusikannya dengan teman atau bertanya kepada
guru/pembimbing.
5. Untuk membantu Anda, sebaiknya sediakan alat tulis, seperti buku
notes, pulpen, dan stabilo untuk mencatat atau memberi tanda
bagian-bagian materi yang dianggap penting atau sulit. Di samping itu,
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
3
sediakan pula kalkulator untuk memudahkan Anda memahami materi
hitungan.
b. Bagi Guru/Pembimbing
1. Guru/pembimbing sebaiknya menempatkan siswa/peserta didik sebagai
subyek ajar dan guru/pembimbing sebagai pendamping atau fasilitator.
2. Berikan kesempatan pada siswa/peserta didik untuk memahami materi
secara sendiri-sendiri dulu, tanpa harus dijelaskan terlebih dahulu oleh
guru. Dalam hal ini guru/pembimbing hanya mengarahkan dan memberi
petunjuk.
3. Guru/pembimbing memberi kesempatan pada siswa/peserta didik untuk
bertanya atau menjelaskan mengenai materi yang telah dipelajarinya.
4. Guru/pembimbing dapat membentuk kelompok kerja atau kelompok
diskusi siswa/peserta didik, untuk membantu siswa/peserta didik dalam
memahami materi.
5. Jawaban siswa atas soal-soal latihan untuk menguji penguasaan
kompetensi, sebaiknya diperiksa dan diberi komentar/dinilai oleh
guru/pembimbing dan dikembalikan ke siswa/peserta didik.
D. Tujuan Akhir
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar pada modul ini, diharapkan
siswa/peserta didik:
a. Menguasai Indikator Kinerja:
1. Bersikap cermat dalam mengelola proses produksi/jasa
2. Membedakan antara produk dan jasa
3. Mendeskripsikan proses produksi dimulai dari sebelum produksi sampai
pascaproduksi.
4. Mendeskripsikan aspek-aspek penting dalam produksi
5. Mendeskripsikan tentang pengendalian kualitas produksi
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
4
6. Membedakan macam-macam pengendalian kualitas produksi
7. Membuat rancangan proses produksi suatu usaha industri.
b. Kriteria Kinerja
Pencapaian keberhasilan indikator kinerja ditunjukkan dengan:
1. Siswa bersikap cermat dan teliti dalam mengelola proses
produksi/jasa.
2. Siswa memiliki pengetahuan mengenai produk dan jasa serta proses
produksi.
3. Siswa memiliki keterampilan menentukan jenis dan kualitas
produk/jasa dan merancang proses produksi.
c. Kondisi/Variabel yang Diperlukan
Untuk mencapai indikator dari kegiatan belajar dalam modul ini, maka
peserta pelatihan/siswa diharuskan melakukan kegiatan:
1. Berdiskusi mengenai proses produksi beserta aspek-aspeknya, serta
mengenai pengendalian kualitas produksi didalam kelas
2. Mengamati kegiatan proses produksi dengan melakukan observasi ke
salah satu perusahaan industri manufaktur secara berkelompok.
3. Berdiskusi dalam kelompok kerja masing-masing mengenai pembuatan
rancangan proses produksi dari suatu rencana usaha.
E. Kompetensi
1. Kompetensi:
Merencanakan pengelolaan usaha kecil
2. Sub kompetensi:
Menganalisis aspek-aspek pengelolaan usaha
3. Kriteria Unjuk Kerja:
Pengelolaan usaha dianalisis berdasarkan aspek produksi
4. Ruang Lingkup Kompetensi:
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
5
a) Persediaan
b) Proses produksi
c) Penyimpanan hasil produksi.
F. Cek Kemampuan
Untuk mengecek kemampuan Anda, sebelum Anda mempelajari materi
modul ini, Anda diharuskan untuk menjawab pertanyaan/soal di bawah ini
terlebih dahulu:
1. Anda tentu pernah mendengar kata produksi, produk, dan produktivitas ?
Apa yang dimaksud ketiga kata tersebut dan apa bedanya ?
2. Apa perbedaan antara produk dan jasa ? Apakah produk dan jasa
dihasilkan oleh suatu proses produksi yang sama ?
3. Aspek atau faktor apa saja yang harus diperhatikan sebelum melakukan
kegiatan/proses produksi ?
4. Aspek atau faktor apa pula yang harus diperhatikan dalam proses
produksi dan setelah proses produksi ?
5. Apa yang disebut dengan kualitas, mengapa diperlukan pengendalian
kualitas produksi ?
6. Pernahkah Anda berkunjung pada suatu perusahaan yang melakukan
kegiatan produksi ? Coba kemukakan apa yang Anda lihat dan terjadi
pada kegiatan produksi tersebut !
G. Glosarium
1. Produktivitas adalah nilai output dalam hubungannya dengan kesatuan
input tertentu, serta umumnya dinyatakan sebagai imbangan daripada
hasil kerja rata-rata dalam hubungannya dengan jam orang rata-rata
dari tenaga kerja yang diberikan dalam proses tersebut.
2. Market-pull, yaitu memproduksi dan menjual produk atas dasar
pertimbangan “membuat apa yang dapat dijual”
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
6
3. Technology-push, yaitu memproduksi dan menjual produk atas dasar
pertimbangan “menjual apa yang dapat dibuat”
4. ROI atau Return on Investment, yaitu tingkat pengembalian dari
sejumlah dana yang diinvestasikan.
5. Diversifikasi, yaitu penganekaragamam. Misalnya diversifikasi produk
artimya menghasilkan berbagai jenis produk.
6. Metode FIFO (First in First out), artinya bahan yang masuk ke
gudang lebih dulu maka diambil atau dikeluarkan untuk digunakan
duluan.
7. Metode LIFO (Least in First out), artinya bahan yang masuk ke
gudang belakangan, diambil atau dikeluarkan untuk digunakan
duluan.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
7
BAB II
PEMBELAJARAN
A. Rencana Belajar Siswa
Agar siswa/peserta didik yang mempelajari modul ini memiliki arah
belajar yang tepat, maka siswa harus memiliki rencana belajar yang
dirancang bersama guru dan disusun seperti tabel berikut:
No Jenis Kegiatan W a k t u Tempat
Keterangan
Tanda
Tangan
guru
1
2
3
4
5
Membaca dan
memahami kegiatan
belajar I
Diskusi materi KB I
Membaca dan
memahami kegiatan
belajar II
Diskusi materi KB II
Melakukan observasi
ke perusahaan
2 X 45 menit
2 X 45 menit
2 X 45 menit
2 X 45 menit
4 X 45 menit
Di rumah
Di sekolah
Di rumah
Di sekolah
Di
lapangan:
perusahaan
B. Kegiatan Belajar
Kegiatan Belajar 1
MENENTUKAN JENIS DAN KUALITAS PRODUK/JASA
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran 1
Setelah mempelajari kegiatan belajar 1 ini, diharapkan Anda dapat:
1) Memiliki cara berpikir dan bertindak cermat dalam pengelolaan produksi
2) Mendeskripsikan pengertian produksi, produk, dan jasa
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
8
3) Memiliki pengetahuan tentang proses produksi
4) Mengidentifikasi aspek-aspek penting dalam produksi
5) Membedakan antara produk dan jasa
6) Membuat rancangan proses produksi dari suatu usaha
b. Uraian Materi 1
1. Pengertian Produksi, Produk dan Jasa
Produksi dapat diartikan secara sempit maupun secara luas. Dalam arti
sempit, produksi merupakan usaha manusia yang mengolah atau
mengubah sumber-sumber ekonomi (bahan-bahan) menjadi produk baru.
Sedangkan dalam arti luas, produksi adalah setiap kegiatan yang
ditujukan untuk menciptakan atau menambah nilai guna (manfaat) suatu
barang/jasa yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Jadi, inti dari kegiatan produksi adalah menambah atau menciptakan nilai
guna atau manfaat dari suatu barang/jasa. Manfaat (utility) yang
diciptakan terdiri dari manfaat bentuk, manfaat tempat maupun manfaat
waktu. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:
a) Manfaat bentuk (form utility)
Seorang wirausahawan membuka usaha pengolahan limbah plastik
menjadi berbagai pot bunga plastik, mengolah sampah rumah tangga
menjadi makanan ternak, mengolah singkong menjadi kripik, dan
sebagainya.
b) Manfaat tempat (place utility)
Seorang wirausahawan membuka usaha penjualan batu-batu kali di
daerah perkotaan, yang diambil dari sungai/kali di desa atau seorang
petani membawa hasil kebun kelapanya untuk dijual ke pasar di kota.
c) Manfaat waktu (time utility)
Seorang wirausahawan melakukan kegiatan menyimpan sebagian padi
hasil panennya untuk dijual atau dimanfaatkan pada musim paceklik,
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
9
seseorang yang membuka usaha pembuatan jas hujan untuk dijual
menjelang atau pada saat musim hujan.
Setiap kegiatan produksi menghasilkan output/produk berupa barang
atau jasa. Jadi, produk adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan produksi.
Namun, pengertian produk sebagai hasil produksi sering kali diartikan
sebagai barang, atau seringkali barang yang merupakan produk dari
kegiatan produksi disebut dengan produk. Oleh karena itu agar tidak
rancu, maka yang dimaksud dengan “produk” dalam materi ini adalah
barang, sebagaimana halnya jasa yang merupakan hasil dari kegiatan
produksi.
Produk/barang adalah hasil dari kegiatan produksi yang mempunyai
sifat-sifat fisik dan kimia, serta ada jangka waktu antara saat diproduksi
dengan saat produk tersebut dikonsumsi atau digunakan. Sedangkan, jasa
adalah hasil dari kegiatan produksi yang tidak mempunyai sifat-sifat baik
fisik maupun kimia serta tidak ada jarak waktu antara saat diproduksi
dengan saat dikonsumsi.
Dari pengertian produk dan jasa tersebut, tentunya Anda dapat
membedakan secara jelas antara produk dan jasa. Selain itu ada pula
istilah lain yang selalu terkait dengan kegiatan produksi, yaitu
produktivitas dan produsen.
Produktivitas adalah nilai output dalam hubungannya dengan kesatuan
input tertentu, serta umumnya dinyatakan sebagai imbangan daripada
hasil kerja rata-rata dalam hubungannya dengan jam orang rata-rata dari
tenaga kerja yang diberikan dalam proses tersebut. Sedangkan yang
dimaksud Produsen adalah orang, badan atau lembaga yang
menghasilkan produk atau yang menyelenggarakan proses produksi.
Proses produksi menunjukkan cara/metode ataupun teknik bagaimana
menciptakan atau menambah faedah atau guna barang/jasa dengan
mempergunakan sumber-sumber ekonomi (faktor-faktor produksi).
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
10
2. Perencanaan Produk dan Perencanaan Produksi
Sebelum seorang pengusaha melakukan kegiatan atau proses
produksi, terlebih dahulu harus membuat rencana produk dan rencana
produksinya, terkait dengan persoalan mendasar yang harus dijawab,
yaitu “What” atau barang apa yang akan dihasilkan serta “How” atau
bagaimana cara memproduksinya dan berapa banyak yang akan
dihasilkan.
Perencanaan produk bersifat lebih luas dari perencanaan produksi,
karena perencanaan produk menunjukkan kebijakan perusahaan yang
bersifat jangka panjang dan umum, sedangkan perencanaan produksi
bersifat taktis dan jangka pendek. Perbedaan antara perencanaan produk
dan perencanaan produksi lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di
bawah ini:
Perbedaan Perencanaan Produk dan Perencanaan Produksi
No Asfek Perencanaan Produk Perencanaan Produksi
1 Sasaran Rencana tentang apa
(What) dan berapa
banyak (How much) yang
dapat diproduksi
perusahaan
Rencana tentang apa dan
berapa banyak yang akan
diproduksi perusahaan
untuk waktu/proses
produksi tertentu
2 W a k t u Jangka waktu
penggunaan bersifat
jangka panjang
Jangka waktu biasanya
untuk satu tahun berjalan,
dan biasanya ada
perubahan pada tiap bulan
3 Manfaat Berguna untuk menyusun
layout pabrik, lingkungan
kerja serta perekrutan
tenaga kerja
Berguna antara lain untuk
menyusun schedul
produksi, menghitung
kebutuhan bahan dan bahan
penolong, upah tenaga
kerja.
Perencanaan produk dan perencanaan produksi tidak sama antara
perusahaan yang baru dengan perusahaan yang telah ada dan memiliki
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
11
pengalaman. Perusahaan/wirausaha baru, yaitu perusahaan/wirausaha
yang baru pertama kali melakukan proses produksi dan belum memiliki
pengalaman mengenai produk/jasa yang dihasilkannya.
Sukses tidaknya seorang pengusaha dalam kegiatan produksinya sangat
bergantung pada pemahamannya mengenai pengendalian produksi mulai
dari perencanaan produksi (pra produksi), proses produksi hingga setelah
kegiatan produksi selesai (pasca produksi). Bila digambarkan proses
pengambilan keputusan pengendalian produksi oleh John E. Biegel
digambarkan sebagai berikut:
Gambar : Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi
Sumber: Joh. E.Biegel, Production Control: A Quantitative Apprpoach, Prentice Hall of
India, 1980, hal. 6
Pada modul ini akan dibahas mengenai aktivitas produksinya
sedangkan bahan baku dan pemasaran produk dibahas pada modul lain.
MASUKAN
BAHAN BAKU
Perencanaan
Kebutuhan
Bahan
AKTIVITAS
PRODUKSI
Perencanaan Prod.
Dan Kapasitas
PEMASARAN
PRODUK JADI
Peramalan
Permintaan Produk
Aliran perencanaan
Aliran perencanaan
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
12
3. Aspek-aspek Perencanaan Produk
Aspek perencanaan produk dan produksi terkait dengan dua
pertanyaan mendasar, yaitu “what” dan “how”. Oleh karena itu, ada tiga
aspek dari perencanaan produk, yaitu:
1. Aspek produk apa yang akan dibuat (what).
Aspek ini menuntut perusahaan atau wirausaha untuk dapat memilih salah
satu dari dua cara:
a) Market-pull, yaitu memproduksi dan menjual produk atas dasar
pertimbangan “membuat apa yang dapat dijual”. Jenis produk yang
akan dihasilkan ditentukan berdasarkan permintaan pasar. Dengan
kata lain cara ini dilandasi filosofi untuk “memenuhi kebutuhan
masyarakat”.
Contoh:
Perusahaan A melakukan riset pasar untuk mengetahui produk yang
saat ini dan beberapa waktu kedepan banyak diminta masyarakat.
Produk X ternyata banyak diminta konsumen dan belum ada
perusahaan yang dapat memenuhi seluruh permintaan pasar, oleh
karena itu perusahaan A memutuskan untuk memproduksi produk X
tersebut, walaupun perusahaan terpaksa harus menyesuaikan
Sebelum proses
produksi berjalan
perlu direncanakan
terlebih dahulu di
mana pabrik akan
didirikan serta
mempersiapkan
fisilitas produksi
yang diperlukan
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
13
teknologi yang dimiliki dan dikuasainya dengan produk X yang akan
dihasilkannya tersebut.
b) Technology-push, yaitu memproduksi dan menjual produk atas dasar
pertimbangan “menjual apa yang dapat dibuat”. Jenis produk yang
akan dihasilkan ditentukan berdasarkan teknologi yang dimiliki dan
dikuasai perusahaan. Dengan perkataan lain, cara ini dilandasi filosofi
untuk “menciptakan kebutuhan masyarakat”.
Contoh:
Perusahaan X dengan sumber dayanya menguasai teknologi produksi
pengolahan limbah plastik menjadi berbagai pot bunga plastik. Oleh
karena itu, perusahaan ini akan memproduksi berbagai macam pot
bunga plastik, tanpa mempertimbangkan bagaimana permintaan pasar
terhadap produk tersebut.
2. Aspek volume produk (How)
Aspek ini adalah aspek yang berhubungan dengan jumlah produk yang
akan dihasilkan/diproduksi. Umumnya dikenal dua cara atau teknik untuk
menentukan jumlah produk yang akan diproduksi, yaitu:
a) Teknik nonstatistika atau teknik pertimbangan.
Yaitu penentuan volume atau jumlah produk yang harus dibuat dan
dijual yang didasarkan atas pendapat/pertimbangan seseorang atau
sekelompok orang, baik dari manajemen perusahaan maupun dari luar
perusahaan. Teknik yang banyak digunakan antara lain:
1) Pertimbangan tenaga penjual.
Tenaga penjual merupakan pihak yang paling mengetahui
bagaimana kondisi pasar dan permintaan konsumen. Oleh karena
itu, tenaga penjual dapat menjadi salah satu sumber informasi
yang tepat dalam menentukan volume produksi.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
14
Misalnya, si A adalah tenaga penjual dari produk suatu perusahaan
menginformasikan bahwa saat ini dan untuk beberapa waktu ke
depan permintaan konsumen akan produk tersebut masih tetap
banyak dan bahkan akan meningkat, hal ini dikarenakan tidak
adanya perusahaan pesaing yang mampu memenuhi permintaan
pasar. Oleh karena itu, atas dasar informasi ini perusahaan akan
memproduksi setidaknya sama dengan jumlah produksi yang lalu
atau dapat menambah jumlah produksi.
2) Pertimbangan eksekutif
Pihak eksekutif dalam hal ini adalah pihak manajemen perusahaan.
Pihak eksekutif adalah wirausaha yang berwawasan luas, termasuk
tentang kondisi pasar atau permintaan masyarakat. Oleh karena
itu, pertimbangan dari pihak manajemen dalam menentukan
volume produksi patut untuk dipertimbangkan.
Hal ini tidak jauh berbeda dari pertimbangan tenaga penjual,
dengan wawasan yang dimilikinya pihak eksekutif membuat
perkiraan jumlah produk yang akan dihasilkan.
3) Pertimbangan ekspert.
Ekspert merupakan pihak yang memang memiliki tugas meramal
volume penjualan, sehingga dari hasil ekspertnya tersebut dapat
ditentukan berapa volume produksi yang tepat.
Ekspert merupakan pihak yang memang diserahi tugas untuk
membuat peramalan mengenai jumlah produk yang akan
diproduksi. Oleh karena itu pihak ekspert akan melakukan berbagai
hal yang ada kaitannya dengan usahanya untuk memprediksi
produksi, misalnya melakukan survey ke konsumen atau pasar,
mencatat fluktuasi penjualan dan sebagainya. Data-data yang
diperoleh kemudian dianalisis dan selanjutnya dijadikan pedoman
untuk menentukan jumlah produksi.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
15
b) Teknik statistika atau teknik analisis kuantitatif.
Yaitu penentuan volume produksi berdasarkan atas analisis kuantitatif
terhadap data-data masa lalu dan proyeksi masa yang akan datang
dengan menggunakan rumus-rumus statistika tertentu. Teknik ini
biasanya membutuhkan data-data kuantitatif mengenai produksi dan
penjualan sebelumnya untuk dapat menentukan atau membuat
peramalan bagi produksi dan penjualan yang akan datang.
3. Aspek kombinasi produk.
Merupakan aspek yang berhubungan dengan masalah jumlah jenis produk
yang akan diproduksi, yaitu perusahaan akan memproduksi dan menjual
lebih dari satu jenis produk (misalnya produk X dan Y). Karena
sumberdaya yang dimiliki perusahaan terbatas, maka harus ditentukan
kombinasi produksi yang tepat, berapa jumlah X yang diproduksi dan
berapa jumlah Y yang akan diproduksi. Untuk menjawab kombinasi yang
tepat tersebut biasanya menggunakan teknik linier programming.
Contoh:
Misalnya Perusahaan “Dunia Akhirat” akan memproduksi antara dua
macam barang yang menggunakan sumber/faktor produksi yang sama
baik bahan baku maupun tenaga kerja, yaitu sepatu anak (A) dengan
sepatu dewasa (D). Memproduksi satu unit sepatu anak tentu
memerlukan bahan baku dan tenaga kerja yang lebih sedikit dibanding
dengan sepatu dewasa. Masing-masing sepatu memberi keuntungan yang
berbeda, sepatu anak (A) memberi keuntungan sebesar Rp 12.000’,- per
unit , sedangkan sepatu dewasa memberi keuntungan sebesar Rp
10.000,- per unit. Bahan baku utama yang digunakan terdiri dari Kulit (K),
benang (B), lem (L), dengan rincian penggunaan sebagai berikut:
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
16
Kebutuhan akan Input per unit
produk
Faktor
Produksi
(Input) A D
Input yang
tersedia
K
B
L
2
1
0,5
2
2
1
100
70
40
Dari data di atas maka:
(a) Dengan persediaan dan penggunaan input seperti di atas maka
bagaimanakah kombinasi produksi antara produk A dan D?
(b) Berapa keuntungan optimal yang akan diperoleh perusahaan
“Dunia Akhirat” apabila memproduksi dengan kombinasi tersebut ?
Jawab:
? Misalnya, perusahaan akan memproduksi A sebanyak X buah dan D
sebanyak Y buah, maka laba yang diperoleh adalah:
Laba = 12.000 X + 10.000 Y
? Penggunaan bahan baku K : 2A + 2D ? 100 (persamaan 1)
? Penggunaan bahan baku B : 1A + 2D ? 70 (persamaan 2)
? Penggunaan bahan baku L : 0,5 A + 1D ? 40 (persamaan 3)
a) Maka dari persamaan 1 dan 2, diperoleh:
2A + 2D = 100
1A + 2D = 70 (-)
A = 30
Untuk menentukan berapa D:
1A + 2D = 70
1 (30) + 2D = 70
2D = 70 – 30
D = 20
Dengan demikian kombinasi produksinya adalah 30 unit produk A
(sepatu anak) dan 20 unit produk D (sepatu dewasa).
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
17
b) Keuntungan optimal yang diperoleh dengan kombinasi produksi di
atas adalah:
(30 X Rp 12.000) + (20 X Rp 10.000) = Rp 560.000,-.
4. Proses Perencanaan Produksi.
a. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan
produksi
Sebelum menetapkan langkah-langkah perencanaan produksi, setiap
perusahaan dalam hal ini manajer produksi selayaknya
mempertimbangkan hal-hal yang berkenaan dengan perencanaan
produksi, yaitu antara lain:
1) Jumlah kebutuhan produksi per produk selama periode tertentu.
2) Kebijakan persediaan terhadap jumlah persedian bahan
baku/penolong, bahan setengah jadi dan barang jadi.
3) Kebijakan kapasitas mesin atau kapasitas poduksi.
4) Tersedianya fasilitas produksi, seandainya terjadi penambahan atau
pengurangan kapasitas produksi.
5) Tersedianya bahan baku dan bahan penolong serta tenaga kerja.
6) Jumlah produksi atau lot produksi yang ekonomis
7) Jadwal produksi dalam satu periode anggaran tertentu.
8) Skala produksi dan karakteristik proses produksi.
9) Dan lain-lain, termasuk dampak dari lamanya proses produksi.
b. Langkah-langkah perencanaan produksi.
Setiap wirausaha atau manajer produksi suatu perusahaan melakukan
langkah – langkah perencanaan produksi sebagai berikut:
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
18
1. Penelitian dan Pengembangan Produk
Bagi perusahaan/wirausaha penelitian produk yang dilakukan dibedakan
atas penelitian terhadap proses produksi maupun pada produk yang
dihasilkan.
a) Penelitian proses produksi
Penelitian proses produksi dimaksudkan untuk perbaikan terhadap
proses produksi yang sedang berjalan baik produk yang sedang
berjalan maupun untuk terciptanya produk baru tertentu.
Contoh:
Terhadap proses produksi produk dodol, dimaksudkan agar dodol yang
dihasilkan memenuhi standar produk yang telah ditetapkan atau dapat
menciptakan produk lain selain dodol dengan menggunakan bahan
yang hampir sama dengan dodol.
b) Penelitian Produk.
Penelitian produk ditujukan untuk perubahan/perbaikan produk yang
sudah ada disesuaikan dengan selera konsumen.
Contoh:
Penelitian terhadap produk dodol yang sudah ada. Misalnya dari segi
rasa dodol tersebut akan divariasikan dengan buah-buahan tertentu
(misalnya dodol rasa starwberry, rasa nangka dan sebagainya),
mengubah ukurannya, kemasannya, dan sebagainya sesuai dengan
selera atau permintaan konsumen.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
19
2. Mencari gagasan dan seleksi produk.
Dari penelitian yang dilakukan baik terhadap proses produksi maupun
terhadap produk, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan dari
penelitian dan pengembangan tersebut, yaitu dengan tahapan :
a) Mencari gagasan, yaitu tahapan dalam mencari gagasan-gagaan dalam
rangka pengembangan produk. Gagasan ini dapat berasal dari
pasar/konsumen, teknologi yang ada atau digunakan dan dari pihak
ketiga atau biasanya pihak ahli.
b) Seleksi produk, yaitu tahapan untuk memilih gagasan-gagasan yang
masuk atau yang terbaik berkaitan dengan pengembangan produk,
sehingga gagasan yang dimanfaatkan adalah gagasan-gagasan yang tidak
akan mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian. Ada tiga alat yang
digunakan untuk menguji apakah suatu gagasan dapat dikembangkan,
yaitu:
1) Kelayakan finansial.
Melalui alat yang dinamakan “Project Value Index”, maka dapat
diketahui apakah suatu gagasan memenuhi kelayanan finansial atau
tidak. Project Value Index ini menggunakan formulasi Return on
Investment (ROI) sebagai berikut:
Pemilihan waktu yang
tepat untuk
berproduksi
merupakan salah satu
kunci sukses dalam
berwirausaha
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
20
Pt X Pc X AV X p X L PM
ROI = ? ? ? ? ? ? ? ? ? atau: ROI = ? ? X 100%
TDC TC
Keterangan:
- Pt : Technical probability atau kemungkinan
keberhasilan teknik (0 ? Pt ? 1)
- Pc : Commercial probability atau kemungkinan
keberhasilan komersial (0 ? Pc ? 1)
- AV : Annual volume, yakni total penjualan produk dalam
unit/tahun
- p : Profit, yaitu laba yang diperoleh per unit =
Hasil – biaya (Revenue – cost)
- L : Life, yaitu waktu kehidupan/tahun
- TDC : Total development cost, yaitu jumlah seluruh biaya
pengembangan produk.
- PM : Profit margin, yaitu margin laba yang diproyeksikan atau
tingkat laba yang diinginkan.
- TC : Total cost, yaitu total biaya pengembangan produk
Kriteria:
- Bila ROI > Tingkat bunga umum (r): Gagasan memiliki kelayakan
finansial
- Bila ROI < Tingkat bunga umum (r) : Gagasan tidak memiliki
kelayakan finansial
Contoh: - Perusahaan AA dalam setahun berharap memperoleh laba
sebesar Rp 25.000.000, dengan biaya operasional sebesar
Rp 10.000.000 dan tingkat bunga umum/bank 15 %, maka
dengan menggunakan rumus ROI yang sederhana, diperoleh:
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
21
25.000.000
ROI = ? ? ? ? ? ? X 100% = 16,67 %
150.000.000
ROI > r (16,67 % > 15 %), artinya gagasan tersebut memiliki
kelayakan finansial.
2) Kesesuaian operasi.
Khusus bagi perusahaan yang telah berproduksi, suatu gagasan
yang memiliki kelayakan finansial bukan berarti dapat langsung
dikembangkan. Apabila operasi dari produk yang akan
dikembangkan berbeda dengan produk yang sudah ada, akan
berdampak pada aspek lain, misalnya akan mengubah layout,
menambah biaya dan sebagainya. Oleh karena, itu pengembangan
suatu gagasan tidak hanya ditentukan oleh kelayakan finansial
melainkan pula oleh kesesuaian operasi.
3) Potensi pasar.
Pengembangan suatu gagasan mengenai produk harus ditentukan
pula oleh potensi pasar dari produk tersebut. Oleh karena bila
potensi pasarnya belum jelas maka pengembangan produk tersebut
perlu dipertimbangkan kembali sampai potensi pasarnya jelas atau
menguntungkan perusahaan.
Untuk kepentingan pengembangan produk tersebut, maka harus
diperhatikan beberapa faktor, antara lain:
(a) Persaingan. Apakah perusahaan pesaing juga telah melakukan
pengembangan produknya ? Kalau ya, bagaimana bentuk
pengembangan produknya ?
(b) Persediaan bahan, baik bahan baku maupun bahan penolong. Apakah
bahan baku dan bahan penolong tersedia dalam jumlah yang cukup
untuk jangka panjang atau justru sebaliknya ?
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
22
(c) Kualitas produksi yang diinginkan. Apakah perusahaan
akanmempertahankan kualitas produk ataukah akan ada perbaikan
kualitas ?
(d) Resiko teknik. Apakah dengan pengembangan produk yang
direncanakan berakibat pada proses secara teknis, misalnya perlunya
mesin atau peralatan yang baru atau tenaga ahli yang baru ?
(e) Volume penjualan yang diharapkan. Apakah dengan pengembangan
produk dapat meningkatkan volume penjualan atau apakah
perusahaan sudah puas dengan volume penjualan yang telah dicapai ?
(f) Strategi perusahaan. Apakah perusahaan telah siap dengan strategi
tertentu dalam upaya pengembagan produk dan mempromosikannya,
dalam bentuk yang bagaimana ?
Faktor-faktor di atas harus mendapat perhatian dari pihak perusahaan
(pengusaha/wirausaha), agar rencana pengembangan produk benarbenar
mendatangkan keuntungan sesuai dengan diharapkan, bukan
sebaliknya yang justru berakibat perusahaan mengalami kerugian.
Dengan demikian, pengembangan produk harus dilakukan dengan
pertimbangan dan perhitungan rasional – ekonomis (motif ekonomis),
bukan hanya sekedar didorong oleh keinginan agar dianggap sebagai
perusahaan yang maju atau karena faktor prestise (motif psikologis)
c) Desain Produk pendahuluan.
Sebelum ditetapkan desain produk/jasa yang akan dikembangkan, maka
ada beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan/wirausaha yaitu:
1) Penentuan bentuk serta fungsi produk baru yang akan diproduksi
2) Pemilihan bahan yang akan digunakan dengan mempertimbangkan:
(a) Kebutuhan jenis (spesifikasi) produk atau bagian dari produk
(b) Harga dari bahan yang akan digunakan
(c) Biaya pemrosesan bahan atau biaya proses produksi.
3) Kesempatan diversifikasi.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
23
Yaitu peluang untuk menambah atau memperbanyak jenis produk yang
akan dihasilkan.
Misalnya:
? Dari hanya menghasilkan produk jasa angkutan, ditambah dengan
produk jasa cuci mobil/motor.
? Dari hanya menghasilkan mesin pemotong rumput, ditambah
dengan menghasilkan pula mesin penggiling rumput untuk
makanan ternak.
? Dan sebagainya.
Bila telah diputuskan produk mana yang akan dikembangkan atau
dihasilkan, maka tahap berikutnya adalah membuat desain produk
pendahuluan, yaitu desain dari produk-produk yang terpilih untuk
dikembangkan atau diproduksi. Desain produk pendahuluan yang
kemudian dikembangkan ke dalam prototypenya diperlukan agar
sebelum produk tersebut diproduksi, selain benar-benar sudah
memenuhi standar yang ditetapkan (baik standar bahan maupun
standar kualitas), juga harus sesuai dengan permintaan
pasar/konsumen.
Ada tiga faktor yang harus dicantumkan dalam desain produk
pendahuluan ini, yaitu:
1) frekuensi kerusakan komponen (reabilitas),
2) kemudahan untuk pemeliharaan dan perbaikan (maintainability),
3) umur produk.
d) Pengujian, yaitu dimaksudkan untuk menguji apakah produk layak
dikembangkan atau tidak, baik dilihat dari potensi pasar atau konsumen
maupun secara teknik dari produk tersebut.
e) Desain akhir.
Apabila hasil pengujian produk tersebut layak untuk dikembangkan, maka
dibuatlah disain akhir. Bila dari pengujian ada perbaikan-perbaikan, maka
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
24
sebelum diproduksi, perlu dibuat prototype baru untuk diuji kembali
sampai produk tersebut lolos uji secara teknik maupun potensi pasar.
3. Menetapkan skala produksi.
Apabila telah ditetapkan jenis produk yang akan dihasilkan, maka langkah
selanjutnya adalah menetapkan skala produksi, yaitu meliputi:
a) Penetapan waktu, yaitu kapan kegiatan proses produksi akan dilakukan
b) Penetapan kuantitas produk, yaitu berupa jumlah (volume) produk yang
akan dihasilkan.
c) Menghitung keperluan biaya, yaitu berapa besar jumlah biaya yang
dibutuhkan
d) Penetapan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan.
e) Penetapan peralatan apa saja yang akan digunakan.
f) Penetapan persediaan bahan baku yang optimal yang sesuai dengan
kebutuhan.
1) Tahap-tahap penetapan skala produksi
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam menetapkan skala
produksi, yaitu:
a) Routing, yaitu tahap menetapkan dan menentukan urutan-urutan
proses produksi dari hahan baku sampai menjadi barang jadi,
termasuk di dalam tahap ini adalah penyusunan alat-alat/fasilitas yang
diperlukan dalam proses produksi.
b) Scheduling, yaitu tahap menetapkan dan menentukan jadwal kegiatan
operasi proses produksi, sebagai satu kesatuan dari keseluruhan
kegiatan produksi.
c) Dispaching, yaitu tahap menetapkan dan menentukan proses
pemberian perintah untuk mulai melakukan kegiatan proses produksi
sesuai dengan routing dan scheduling.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
25
d) Follow – up, yaitu tahap menetapkan dan menentukan berbagai
kegiatan agar tidak terjadi penundaan dan mengkoordinasi seluruh
perencanaan kegiatan proses produksi.
2) Prinsip-prinsip yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan
skala produksi :
Dalam menetapkan skala produksi, seorang wirausaha atau manajer
produksi harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Skala produksi harus sesuai dengan tujuan perusahaan atau tujuan
usaha, artinya jangan sampai tujuan perusahaan harus diubah
disesuaikan dengan skala produksi yang terlanjur telah ditetapkan.
b) Memperhatikan prinsip praktis dan kesederhanaan, artinya skala
produksi harus mudah dilaksanakan oleh siapa pun dan bersifat
sederhana.
c) Skala usaha bermanfaat dalam memberikan analisis dan klasifikasi
mengenai kegiatan proses produksi.
3) Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam skala produksi.
Dalam menetapkan skala produksi, perusahaan harus mempertimbangkan
faktor-faktor berikut:
1. Sifat proses produksi
Telah diuraikan sebelumnya mengenai perencanaan produksi. Apabila
berbicara mengenai perencanaan produksi, maka sekaligus juga
membicarakan masalah pemilihan proses produksi, yaitu pemilihan proses
produksi antara proses produksi atas dasar pesanan (job order) dan
produksi massal (mass production).
a) Produksi atas dasar pesanan (job order)
Jika perusahaan menggunakan proses produksi atas dasar pesanan,
maka baik spesifikasi (jenis) maupun jumlah (kuantitas) produk
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
26
didasarkan atas pesanan yang masuk sesuai dengan permintaan pihak
pemesan.
Produksi atas dasar pesanan memiliki ciri utama:
1) Produk tidak dijual secara bebas di pasar (given market)
Produk hanya diproduksi dalam jumlah terbatas atau sejumlah
pesanan, sehingga tidak dijual secara bebas di pasar-pasar.
2) Perusahaan tidak perlu mengadakan persediaan (zero inventory)
Karena memproduksi sebanyak yang dipesan, maka jumlah
produksi selalu habis terjual. Oleh karena itu, perusahaan tidak
perlu memiliki persediaan, perusahaan baru akan memproduksi bila
ada pesanan dari pelanggan/konsumen.
b) Produksi massa (mass production)
Jika perusahaan menggunakan proses produksi massa, maka baik jenis
maupun jumlah produksi tidak didasarkan atas pesanan, melainkan
atas apa yang diputuskan perusahaan. Biasanya didasarkan atas
pertimbangan volume produksi dan volume penjualan sebelumnya
atau atas dasar pertimbangan pihak-pihak tertentu (misalnya tenaga
penjual, manajemen perusahaan, ekspert atau pihak lainnya).
Produksi massa memiliki ciri utama:
1) Produk dihasilkan dalam jumlah besar (produksi besar-besaran)
2) Tujuan produksi adalah untuk menguasai pasar
3) Produk dijual di pasar bebas (free market)
4) Variasi produk kecil.
5) Harus ada persediaan untuk memenuhi permintaan pada masa
tunggu (lead time)
Keputusan untuk memilih apakah perusahaan akan melakukan proses
produksi pesanan atau produksi massa, sangat tergantung pada
kemungkinan keuntungan yang akan diraih perusahaan, khususnya dilihat
dari penguasaan pasar. Untuk memilih proses produksi massa, maka
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
27
perusahaan terlebih dahulu perlu melakukan analisis pasar tentang situasi
dan kondisi pasar khususnya untuk melihat pesaing. Hal ini diperlukan
untuk menyusun peramalan penjualan, yaitu perkiraan tentang penjualan
barang hasil produksi pada masa yang akan datang.
Perusahaan dapat memilih salah satu atau kombinasi dari kedua
proses produksi tersebut, yaitu disamping menjalankan proses produksi
massa pada suatu lini produk tertentu perusahaan juga menerima
pesanan khusus (job order) untuk lini produk lainnya, khususnya bagi
perusahaan yang telah lama berkiprah atau telah memiliki pengalaman
produksi dan penjualan. Sedangkan, bagi perusahaan yang baru atau
wirausaha baru melakukan produksi atas dasar pesanan masih sulit
dilakukan karena belum dikenal.
Contoh:
Perusahaan memproduksi secara massa kemeja pria dewasa dengan
ukuran umum S, M, dan L. Namun, perusahaan juga memproduksi kemeja
atas dasar pesanan, misalnya kemeja dengan desain khusus sesuai
permintaan konsumen, kemeja dengan ukuran extra, dan sebagainya.
2. Jenis dan mutu produk yang akan diproduksi
Perusahaan perlu mempertimbangkan jenis dan mutu produk yang akan
diproduksi, yaitu:
(a) Sifat produk, apakah termasuk barang habis pakai (undurable goods) atau
apakah barang tahan lama (durable goods).
(b) Kegunaan produk, apakah termasuk barang konsumsi (consumer’s goods)
atau barang produksi (producer’s goods).
(c) Pembiayaan, apakah produk tersebut tergantung pada biaya satuan atau
biaya total.
(d) Sifat permintaan, apakah produk tersebut diproduksi atas permintaan
musiman atau rutin.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
28
3. Pola/Kebijakan Produksi
Pola produksi menyangkut masalah mengenai pendistribusian produksi
untuk masa produksi tertentu (biasanya satu tahun) ke dalam periode yang
lebih kecil (misalnya tengah tahunan, triwulan atau bulanan).
Pola produksi diperlukan perusahaan yang sering kali mengalami fluktuasi
penjualan produk yang berakibat berfluktuasinya persediaan awal dan
persediaan akhir produk.
Ada tiga macam pola/kebijakan produksi yang dikenal, yaitu:
a) Pola produksi konstan.
Yaitu distribusi produk dari tahunan ke bulanan yang relatif sama besar
(konstan) setiap bulannya. Dengan pola seperti ini, maka akan terdapat
atau terjadi persediaan. Dengan adanya persediaan, maka kekurangan
dan kelebihan penjualan akan diseimbangkan oleh kelebihan dan
kekurangan persediaan yang dimiliki.
Contoh:
- Jumlah produksi setiap bulan sebanyak 1.500 unit.
- Misalnya, Bulan Juni terjual sebanyak 1.350 unit, berarti perusahaan
memiliki persediaan sebanyak 150 unit.
- Bulan Juli perusahaan mampu menjual sebanyak 1.600 unit, padahal
perusahaan hanya memproduksi sebanyak 1.500 unit. Kekurangan
barang produksi ditutupi atau diseimbangkan dari persediaan bulan
sebelumnya (150 unit), berarti perusahaan masih memiliki persediaan
sebanyak 50 unit.
- Dan seterusnya, kekurangan atau kelebihan barang penjualan
diseimbangkan oleh kelebihan atau kekurangan persediaan, kecuali
untuk keadaan tertentu, misalnya saat terjadi permintaan besarbesaran.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
29
b) Pola produksi bergelombang.
Yaitu distribusi produk tahunan ke bulanan, dengan jumlah produksi
dari bulan ke bulan tidak sama besar tergantung pada besar kecilnya
penjualan. Dengan pola produksi demikian, maka di samping jumlah
produk yang diproduksi akan naik turun, juga berakibat pada kondisi
persediaan relatif stabil. Bila penjualan naik maka produksi akan naik
pula. Sedangkan, bila penjualan turun maka produksi akan turun pula.
Contoh:
- Misalnya jumlah produksi suatu perusahaan sebanyak 1.500 unit
dengan persediaan sebanyak 100 unit.
- Bulan Juni diperkirakan penjualan sebanyak 1.800 unit, maka
perusahaan akan memproduksi sebanyak 1.800 unit.
- Bulan Juli diperkirakan penjualan sebanyak 1.600 unit, maka
perusahaan akan memproduksi sebanyak 1.600 unit.
- Dengan demikian, maka persediaan akan relatif stabil ? 100 unit.
c) Pola produksi moderat.
Yaitu distrubusi produk tahunan ke bulanan, dengan jumlah produksi dan
persediaan yang berubah-ubah tergantung pada naik turunnya penjualan.
Artinya, naik turunnya penjualan akan berakibat langsung pada naik
turunnya baik produksi maupun persediaan.
Contoh:
- Misalnya, jumlah produksi suatu perusahaan sebanyak 1.500 unit
dengan persediaan sebanyak 100 unit.
- Bulan Juni produksi sebanyak 1.600 unit dan penjualan sebanyak
1.400 unit, maka persediaan menjadi 300 unit. (1.600 + 100 – 1.400
= 300 unit)
- Bulan Juli produksi sebanyak 1.300 unit dan penjualan sebanyak 1.000
unit, maka persediaan menjadi 600 unit. (1.300 + 300 – 1.000 = 600
unit).
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
30
- Dan seterusnya, seperti di atas. Jumlah produksi dan persediaan tidak
stabil atau berfluktuasi seiring dengan fluktuasi penjualan.
Dari ketiga pola atau kebijakan produksi di atas, kebijakan atau pola
produksi konstan memiliki keunggulan karena pola produksi konstan atau
stabil ini memiliki 3 keuntungan, yaitu:
(a) Penggunaan fasilitas pabrik yang lebih baik:
- Mengurangi kapasitas yang diperlukan untuk musim ramai
- Menghindari kapasitas menganggur pada saat musim sepi
(b) Stabilitas tenaga kerja:
- Memperbaiki moral dan meningkatkan efisiensi tenaga kerja
- Mengurangi perputaran tenaga kerja
- Menarik tenaga kerja yang lebih terampil dan berpengalaman
- Mengurangi biaya latihan tenaga kerja baru
(c) Pembelian bahan baku yang lebih ekonomis sebagai akibat:
- Tersedianya bahan baku secara merata
- Diperolehnya potongan pembelian
- Kebutuhan modal yang merata
- Penyederhanaan masalah penyimpanan
- Mengurangi risiko persediaan.
c. Rangkuman 1
1. Produksi dapat diartikan dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit,
produksi merupakan usaha manusia yang mengolah atau mengubah
sumber-sumber ekonomi (bahan-bahan) menjadi produk baru. Sedangkan
dalam arti luas, produksi adalah setiap kegiatan yang ditujukan untuk
menciptakan atau menambah nilai guna (manfaat) suatu barang/jasa
yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
2. Perencanaan produk bersifat lebih luas dari perencanaan produksi. Oleh
karena itu, perencanaan produk menunjukkan kebijakan perusahaan yang
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
31
bersifat jangka panjang dan umum. Sedangkan, perencanaan produksi
bersifat taktis dan jangka pendek.
3. Tiga aspek dari perencanaan produk, yaitu:
1) Aspek produk apa yang akan dibuat
2) Aspek volume produk
3) Aspek kombinasi produk
4. Langkah-langkah perencanaan produksi terdiri atas:
1) Penelitian dan pengembangan produk
2) Mencari gagasan dan seleksi produk
3) Menetapkan skala produksi
5. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam skala produksi adalah:
1) Sifat proses produksi, apakah produksi berdasarkan job order atau
mass production
2) Jenis dan mutu produk yang akan diperoduksi, baik sifat, kegunaan,
pembiayaan maupun sifat permintaan produk.
3) Pola dan kebijakan produk, apakah kebijakan produksi konstan,
bergelombang atau moderat.
d. Tugas
1) Cari informasi mengenai kecenderungan proses produksi yang umumnya
digunakan pada industri-industri di Indonesia. Amati industri-industri
yang tredekat dengan lingkungan Anda !
2) Buat laporan dari pengamatan Anda tersebut, disertai dengan komentar
Anda seperlunya !
e. Evaluasi
1) Instrumen Penilaian
Untuk melihat penguasaan kompetensi Anda, jawablah pertanyaanpertanyaan
berikut !
1. Kemukakan perbedaan antara produksi, produk dan produktivitas ! (15)
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
32
2. Kemukakan pula perbedaan antara produk dan jasa ? Apakah produk dan
jasa dihasilkan oleh suatu proses produksi yang sama ? (15)
3. Dalam penentuan volume atau jumlah produk yang harus dibuat dan
dijual biasanya didasarkan atas pendapat/pertimbangan seseorang atau
sekelompok orang, baik dari manajemen perusahaan maupun dari luar
perusahaan salah satunya adalah dari tenaga penjual. Jelaskan mengapa
tenaga penjual dapat dijadikan sebagai sumber pertimbangan ! (25)
4. Menurut Anda Pola dan kebijakan produksi manakah yang lebih baik,
kebijakan konstan, bergelombang atau moderat ? Mengapa ? (25)
5. Perencanaan produksi yang manakah menurut Anda yang lebih rumit,
antara produksi barang konsumsi (consumer’s goods) atau barang
produksi (producer’s goods) ? Jelaskan ! (20)
2) Kunci Jawaban
1. Perbedaan produksi, produk, dan produktivitas, yaitu bahwa produksi
menunjukkan pada kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan
output. Produk adalah output dari kegiatan produksi. Sedangkan,
produktivitas menunjukkan keberhasilan dari kegiatan produksi dalam
menghasilkan produk.
2. Produk dan jasa adalah output dari kegiatan produksi. Produk
merupakan output dari kegiatan produksi yang mengolah bahan baku
menjadi barang jadi. Sedangkan, jasa merupakan output dari kegiatan
produksi berupa jasa yang tidak mengolah bahan baku menjadi barang
jadi. Perbedaan keduanya ditunjukkan dari sifat-sifatnya, yaitu produk
memiliki sifat-sifat fisik dan kimia. Sedangkan, jasa tidak memiliki sifat
fisik maupun kimia
3. Hal ini dikrenakan tenaga penjual merupakan pihak yang paling
mengetahui bagaimana kondisi pasar dan permintaan konsumen, baik
menyangkut masalah berapa besar permintaan, produk apa dengan
kualitas yang bagaimana yang diinginkan konsumen, keadaa pesaing
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
33
dan sebagainya. Oleh karena itu, tenaga penjual dapat menjadi salah
satu sumber informasi yang tepat dalam menentukan volume produksi.
4. Sebenarnya antara ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, namun bila diperhatikan kebijakan atau pola produksi
konstan memiliki keunggulan lebih, karena pola produksi konstan atau
stabil ini memiliki 3 keuntungan, yaitu:
a) Penggunaan fasilitas pabrik yang lebih baik, dalam bentuk antara
lain:
- Mengurangi kapasitas yang diperlukan untuk musim ramai
- Menghindari kapasitas menganggur pada saat musim sepi
b) Stabilitas tenaga kerja, dalam bentuk antara lain:
- Memperbaiki moral dan meningkatkan efisiensi tenaga kerja
- Mengurangi perputaran tenaga kerja
- Menarik tenaga kerja yang lebih terampil dan berpengalaman
- Mengurangi biaya latihan tenaga kerja baru
c) Pembelian bahan baku yang lebih ekonomis sebagai akibat, dalam
bentuk antara lain:
- Tersedianya bahan baku secara merata
- Diperolehnya potongan pembelian
- Kebutuhan modal yang merata
- Penyederhanaan masalah penyimpanan
- Mengurangi risiko persediaan.
5. Dilihat dari sifat barangnya, tentu yang lebih rumit adalah prencanaan
produksi untuk barang konsumsi (consumer’goods), karena menyangkut
masalah selera konsumen, daya beli konsumen serta kualitas dan jenis
produk yang diinginkan konsumen. Sedangkan untuk barang produksi
(producers goods) tidak langsung berhubungan dengan konsumen yang
memiliki keinginan yang bermacam-macam.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
34
3) Kriteria Penilaian
Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban
Anda yang benar. Angka dalam kurung yang ada di belakang setiap nomor
menunjukkan skor nilai tiap nomor, yang kalau dijumlahkan skor
keseluruhannya adalah 100.
Selanjutnya, gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi kegiatan belajar modul ini.
Jumlah jawaban Anda yang benar
Tingkat penguasaan = X 100 %
100
Arti tingkat pemahaman Anda:
90 % - 100 % = amat baik dan sangat berhasil
80 % - 89 % = baik dan berhasil
70 % - 79 % = kurang berhasil
? 69 % = tidak berhasil
Tingkat kelulusan bisa dicapai bila Anda bisa menjawan minimal 80 % dari
soal-soal di atas. Kurang dari standar di atas Anda dinyatakan tidak lulus
dan dapat melanjutkan pada kegiatan belajar 2.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
35
Kegiatan Belajar 2
PENGENDALIAN KUALITAS
A. Tujuan Kegiatan Pembelajaran 2
1) Mendeskripsikan pengertian pengendalian kualitas produksi
2) Mengidentifikasi macam-macam pendekatan pengendalian kualitas
produksi
3) Membedakan macam-macam pengendalian kualitas produksi
4) Menarik kesimpulan mengenai manfaat pengendalian kualitas produksi
B. Uraian Materi 2
1. Standardisasi dan Kualitas Produk
Yang dimaksud dengan standarisasi adalah penentuan dasar atau
spesifikasi baik produk, bahan maupun proses. Spesifikasi ini pada akhirnya
akan menentukan kualitas dari produk tersebut. Kualitas menunjukkan atribut
yang melekat pada suatu produk, sehingga produk tersebut dikenal dan
memiliki nilai. Atribut atau sifat yang melekat tersebut, misalnya berupa
bentuk, rasa, warna, desain, kenyamanan produk, dan sebagainya.
Standar dan kualitas suatu produk merupakan dua hal yang selalu terkait,
karena penyesuaian produk dengan standar yang telah ditetapkan
merupakan bagian dari pengendalian kualitas, yang memiliki tujuan selain
untuk memuaskan konsumen juga sekaligus untuk menekan biaya (efisiensi).
Pengendalian kualitas bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpanganpenyimpangan,
baik bahan, tenaga, waktu maupun kualitas barang jadi serta
untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi baik sebelum,
pada saat maupun setelah proses produksi berlangsung. Oleh karena itu,
agar pengendalian kualitas produk dapat dilakukan dengan baik, maka pihak
perusahaan perlu menyediakan:
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
36
1. Petugas pengawas kualitas input, proses, dan output.
2. Alat-alat pengukur kualitas dan pedoman kualitas
3. Tempat pengawasan yang refressentatif, sehingga pengawasan
dapat berjalan sempurna
4. Batas waktu penyimpanan, baik bahan baku/penolong, bahan
setengah jadi maupun barang jadi.
5. Jika memungkinkan, insentif bagi pekerja yang dapat memenuhi
standar kerja yang disyaratkan.
Standar dari kualitas suatu produk ditetapkan dengan
mempertimbangkan antara lain:
a) Kualitas produk pesaing.
Minimal perusahaan menghasilkan produk dengan kualitas yang sama
dengan pesaing, sedapat mungkin lebih baik dari pesaing.
b) Manfaat/guna akhir dari produk tersebut .
Apakah produk tersebut sebagai produk akhir (consumer goods) atau
barang perantara untuk diproduksi lebih lanjut (producer goods).
c) Keseimbangan antara harga dan kualitas.
Perusahaan harus menyesuaikan harga jual dengan kualitas produk,
atau dengan kualitas tertentu perusahaan hanya dapat menjual
dengan harga tertentu pula. Konsumen tidak akan segan membeli
dengan harga tinggi, bila kualitas dari produk yang dibelinya memang
terjamin atau berkualitas super.
Pertimbangan tersebut tentu saja akan melibatkan pihak atau bagian
lain yang ada dalam suatu perusahaan, seperti bagian pemasaran, bagian
teknik, bagian keuangan dan personalia, serta bagian lainnya.
Dalam setiap rangkaian proses produksi standardisasi sangat
diperlukan, hal ini dikarenakan standardisasi memiliki keuntungan sebagai
berikut:
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
37
a) Jumlah bahan (baku dan penolong) yang dibutuhkan sudah dapat
diperhitungkan, sehingga perusahaan dapat menentukan jumlah
persediaan bahan baku yang optimal. Penentuan persediaan yang
optimal diuraikan pada modul 16.
b) Memudahkan proses produksi dan pengawasan jalannya proses produksi
c) Mendorong semangat kerja para pekerja. Hal ini dikarenakan mereka
tahu berapa banyak yang akan mereka kerjakan, sehingga mengetahui
berapa pendapatan yang akan mereka terima
d) Adanya efisiensi, baik bahan, waktu maupun tenaga, selama proses
produksi maupun setelah proses produksi atau untuk pemasaran.
2. Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas umumnya dilakukan dengan menggunakan tiga
pendekatan, yaitu pendekatan masukan, pendekatan proses, dan pendekatan
keluaran.
a. Pendekatan Masukan
Kualitas suatu produk akhir sangat ditentukan oleh kualitas masukan
(input) produksi, baik bahan (baku dan penolong), tenaga kerja maupun
fasilitas/peralatan produksi yang digunakan. Oleh karena itu, pengendalian
kualitas masukan sangat penting.
Pengendalian kualitas berdasarkan pendekatan masukan adalah
pengendalian dengan cara menetapkan standar yang sangat ketat terhadap
spesifikasi masukan proses produksi. Spesifikasi bahan baku diperiksa secara
cermat, tenaga kerja yang digunakan diseleksi secara ketat, serta fasilitas
atau perlengkapan produksi dipilih secara cermat pula.
Pada bagian ini pengendalian kualitas dengan pendekatan masukan akan
difokuskan pada masalah bahan (baku dan penolong), karena masalah
tenaga kerja dan perlengkapan atau fasilitas produksi dibahas pada modul
lain.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
38
1) Pengendalian kualitas bahan baku
Salah satu masukan (input) proses produksi yang sangat menentukan
kualitas produk adalah input bahan baku dan penolong. Pengendalian
kualitas bahan akan menentukan bagus tidaknya kualitas hasil (output).
Untuk itu langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pengendalian
kualitas bahan adalah sebagai berikut:
1. Seleksi sumber-sumber bahan, yang meliputi hal-hal berikut:
? Kualitas dari bahan yang akan digunakan
? Kemampuan pengadaan dari pihak supplier/leveransir
? Harga bahan
Dengan mempertimbangkan ketiga hal tersebut, maka
memungkinkan perusahaan terhindar dari mengalami kerugian dan
kontinuitas produksi akan terjamin. Keberhasilan dalam melakukan
seleksi terhadap ketiga hal di atas dapat dilakukan dengan cara:
(a) Meneliti pengalaman masa lalu.
Pengalaman masa lalu tentu hanya dimiliki oleh
perusahaan/wirausaha yang sudah berjalan dan berpengalaman
melakukan hubungan dengan berbagai pihak, khususnya pihak
supllier.
Dalam hal ini, perusahaan atau wirausaha harus dapat memilih
supplier yang tidak merugikan. Hal ini dapat diamati dari
pengalaman perusahaan berhubungan dengan pihak supplir selama
ini, seperti:
? Tabiat dan watak serta kebiasaan supplier dalam pengiriman
pesanan.
Dalam hal ini, carilah supplier yang memiliki watak atau tabiat
yang jujur dan dapat dipercaya.
? Kualitas bahan yang ditawarkan.
Antara kualitas barang yang diterima harus sama dengan
kualitas bahan yang ditawarkan yang biasanya dalam bentuk
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
39
contoh atau sampel. Carilah supplier yang dapat memenuhi hal
tersebut.
? Ketepatan waktu pengiriman.
Kebiasaan supllier dalam hal pengiriman pesanan juga menjadi
pertimbangan, carilah supplier yang selama ini selalu tepat
waktu dalam mengirim barang pesanan.
? Kerusakan bahan.
Apakah kerusakan bahan selalu ditanggung oleh supplier atau
oleh pihak pemesan ? Carilah supplier yang selalu bertanggung
jawab dan menjamin kerusakan bahan.
(b) Evaluasi
Bagi perusahaan atau wirausaha baru biasanya belum memiliki
pengalaman masa lalu dalam berhubungan dengan pihak supplier.
Oleh karena itu bagi pengusaha atau wirausaha baru seleksi bahan
dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan evaluasi. Sedangkan
bagi pengusaha atau wirausaha yang sudah memiliki pengalaman
akan melakukan kegiatan evaluasi apabila terdapat beberapa
supplier baru yang belum dikenal perusahaan.
Kegiatan evaluasi ini dapat dilakukan dengan cara melalukan
survey dan wawancara dengan pihak supplier dimaksud, sehingga
diperoleh gambaran bagaimana keadaan yang sesungguhnya dari
supplier tersebut. Dengan demikian perusahaan akan dapat
menentukan supplier mana yang akan dijadikan mitra dalam
pengadaan bahan keperluan produksi.
2. Pemeriksaan dokumen pengadaan dan pemeriksaan penerimaan bahan.
Kepentingan agar pada saat penerimaan bahan yang dipesan tidak
terjadi kesalahan, maka perlu ada kontrak pembelian atau order
pembelian. Segala yang tertulis dalam surat order tersebut harus
diteliti benar sebagai dokumen yang nantinya akan menjelaskan bila
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
40
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari, misalnya bila
terjadi pengingkaran dari pihak supplier pada saat penerimaan
pesanan, kualitas tidak sesuai dengan contoh atau jadwal pengiriman
yang terlambat, dan sebagainya.
Oleh karena itu, dalam surat order tersebut dicantumkan secara
tegas hal-hal yang berkaitan dengan:
? kualitas barang yang diinginkan perusahaan sebagai pihak
pemesan atau pembeli.
? Harga yang disepakati beserta jumlah yang dipesan.
? Jadwal pengiriman.
? Kesepakatan lain, apabila ada penyimpangan yang mungkin terjadi.
3. Penyimpanan bahan.
Setelah barang yang dipesan diterima perusahaan dan sesuai
dengan dokumen kontrak pembelian, selanjutnya barang disimpan di
gudang untuk sementara sampai digunakan dalam proses produksi.
Agar pada saat penggunaan tidak terjadi kesalahan, maka terhadap
barang yang masuk ke gudang perlu dilakukan:
? Pemberian tanda yang mudah dibaca atau dilihat pada
bahan/barang yang disimpan tersebut.
? Pengepakan dan penataan bahan yang disimpan secara baik dan
teratur, sehingga kualitas barang tetap terjaga.
? Pemberian tanda batas waktu pemakaian (kadaluarsa) khususnya
untuk bahan yang memiliki batas waktu pemakaian.
? Perlu menetapkan sistem pengambilan bahan digudang sesuai
dengan karakteristik masing-masing bahan. Ada dua metode yang
dapat dipilih, yaitu:
(a) Metode FIFO (First in First out), artinya bahan yang masuk ke
gudang lebih dulu maka diambil atau dikeluarkan untuk
digunakan duluan.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
41
(b) Metode LIFO (Least in First out), artinya bahan yang masuk ke
gudang belakangan, diambil atau dikeluarkan untuk
digunakan duluan.
2) Pengendalian kualitas bahan setengah jadi.
Pengendalian ini dimaksudkan untuk mengetahui adakah bahan
setengah jadi yang mengalami kerusakan. Ada dua jenis kerusakan yang
mungkin terjadi dan perlu penanganan tersendiri, agar tidak
mengecewakan konsumen serta dapat mengurangi biaya produksi lebih
lanjut, yaitu:
a) Kerusakan berat.
Bila terjadi kerusakan berat pada bahan setengah jadi, maka bahan
tersebut harus dikeluarkan dari proses produksi berikutnya. Hal ini
dimaksudkan agar tidak mengganggu proses dan kualitas dari bahan
lainnya.
b) Bila mengalami kerusakan, namun masih bisa diperbaiki, maka bahan
setengah jadi tersebut harus segera diperbaiki. Dengan demikian,
selain dapat mengurangi biaya produksi juga untuk memenuhi
permintaan yang segera harus dipenuhi setelah bahan setengah jadi
tersebut diperbaiki terlebih dahulu.
3) Pengendalian kualitas barang jadi.
Pengendalian kualitas barang jadi harus dilakukan secara teliti dan
cermat. Hal ini dikarenakan kualitas barang jadi hampir menunjukkan
kualitas produk secara keseluruhan. Dengan demikian, bila telah dilakukan
pengendalian kualitas pada bahan baku dan penolong serta pengendalian
kualitas proses, maka kualitas barang jadi dengan sendirinya telah
terkendali. Dengan perkataan lain, bila output atau barang jadi telah
sesuai dengan standar kualitas, berarti tidak ada masalah pada
pengendalian bahan baku dan bahan setengah jadi.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
42
b. Pendekatan Proses.
Pengendalian kualitas dengan pendekatan proses dilakukan melalui
pengendalian yang ketat terhadap standar proses produksi yang dijalankan.
Setiap pekerja yang menjalankan proses produksi berkerja atau menjalankan
kegiatan sesuai dengan yang tercantum dalam pedoman yang telah
ditetapkan. Di samping itu setiap pekerja berusaha untuk meminimalisasi
penyimpangan, dan setiap kerusakan fasilitas diperbaiki dengan segera.
Sebelum melakukan proses produksi, setiap perkerja terlebih dahulu
diberi pedoman pelaksanaan proses produksi dan harus betul-betul
memahaminya sampai perkerja tahu apa yang harus dilakukannya dan
berusaha optimal melakukan sesuai dengan pedoman.
c. Pendekatan Keluaran.
Pengendalian kualitas dengan menggunakan pendekatan keluaran
dilakukan dengan melihat kesesuaian produk akhir dengan pesanan atau
standar yang ditetapkan, yaitu dilakukan dengan melihat dan memeriksa
sampel produk. Di samping itu, pengendalian dengan pendekatan keluaran
juga dilakukan terhadap fasilitas penyimpanan produk akhir.
Standar
kualitas input
dan output
dapat
diketahui
melalui
penelitian
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
43
Dengan demikian, setiap produk akhir (keluaran) akan diperiksa untuk
dilihat kesesuaiannya dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,
yaitu yang disebut dengan sampel produk.
3. Manfaat Pengendalian Kualitas
Sebagaimana diketahui bahwa setiap perusahaan atau wirausaha
berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan setiap
konsumen pun demikian. Konsumen akan mencari barang dengan harga yang
terjangkau dan kualitas barang yang sesuai atau kalau mungkin kualitas yang
baik. Untuk mencapai tujuan kedua pihak tersebut diperlukan suatu usaha,
dalam hal ini adalah berupa pengendalian kualitas produk.
Pengendalian kualitas produksi diperlukan agar produk yang dihasilkan
sesuai dengan rencana produksi. Oleh karena itu, dengan terkendalinya
kualitas produksi, baik pengendalian kualitas dengan pendekatan masukan,
proses maupun keluaran, maka akan memberi beberapa manfaat, baik bagi
perusahaan maupun bagi konsumen.
1) Manfaat bagi perusahaan:
a) Tercapainya efisiensi, dikarenakan:
- Tidak ada pemborosan bahan baku/penolong
- Tidak ada pemborosan waktu maupu tenaga.
b) Menekan biaya, sehingga biaya rata-rata dan harga jual menjadi
rendah.
c) Meningkatkan penjualan, di samping karena harga jual relatif rendah
juga karena kualitas barang yang terjamin.
2) Manfaat bagi konsumen adalah konsumen merasa puas, karena dapat
memperoleh barang yang berkualitas dengan harga yang bersaing.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
44
c. Rangkuman 2
1. Standarisasi adalah penentuan dasar atau spesifikasi baik produk, bahan
maupun proses. Sedangkan, kualitas menunjukkan atribut yang melekat
pada suatu produk, sehingga produk tersebut dikenal dan memiliki nilai
2. Pengendalian kualitas bertujuan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan, baik bahan, tenaga, waktu maupun
kualitas barang jadi serta untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
pernah terjadi baik sebelum, pada saat maupun setelah proses produksi
berlangsung
3. Pengendalian kualitas bertujuan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan, baik bahan, tenaga, waktu maupun
kualitas barang jadi serta untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
pernah terjadi baik sebelum, pada saat maupun setelah proses produksi
berlangsung.
4. Pengendalian kualitas berdasarkan pendekatan masukan adalah
pengendalian dengan cara menetapkan standar yang sangat ketat
terhadap spesifikasi masukan proses produksi.
5. Pengendalian kualitas dengan pendekatan proses dilakukan melalui
pengendalian yang ketat terhadap standard proses produksi yang
dijalankan. Setiap pekerja yang menjalankan proses produksi bekerja atau
menjalankan kegiatan sesuai dengan yang tercantum dalam pedoman
yang telah ditetapkan.
6. Pengendalian kualitas dengan menggunakan pendekatan keluaran
dilakukan dengan melihat kesesuaian produk akhir dengan pesanan atau
standard yang ditetapkan, yaitu dilakukan dengan melihat dan memeriksa
sampel produk.
7. Pengendalian kualitas produksi diperlukan agar produk yang dihasilkan
sesuai dengan rencana produksi. Oleh karena itu, dengan terkendalinya
kualitas produksi, baik pengendalian kualitas dengan pendekatan
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
45
masukan, proses maupun keluaran, maka akan memberi beberapa
manfaat, baik bagi perusahaan maupun bagi konsumen.
d. Tugas
1. Amati barang-barang yang dijual dalam suatu toko atau pasar.
Tanyakan dan catat oleh Anda macam-macam kualitas dari satu jenis
barang tertentu. Misalnya: janis barang beras, ada jenis/ merk beras
apa saja, dan bagaimana kualitasnya (apakah ada kualitas 1,2 atau 3
dst.). Jenis dan kualitas manakah yang banyak diminta konsumen ?
2. Amati pula mengenai jenis barang tertentu yang terdiri dari banyak
merk/jenis (misalnya mie instan, pasta gigi dsb.). Apakah kualitas dari
barang dengan berbagai merk tersebut sama, mengapa ada banyak
jenis merk untuk barang yang sama ?
3. Buat laporan Anda dari observasi tersebut, dan beri komentar
seperlunya!
e. Evaluasi
1) Insrumen Penilaian
Untuk melihat penguasaan kompetensi Anda, jawablah pertanyaan
pertanyaan berikut !
1. Jelaskan mengapa seorang wirausaha atau manajer produksi suatu
perusahaan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mengelola
produksi ? (25)
2. Aspek atau faktor apa pula yang harus diperhatikan dalam proses
produksi ? (20)
3. Apa yang disebut dengan kualitas, mengapa diperlukan pengendalian
kualitas produksi ? (20)
4. Apakah kualitas barang memberi kepuasan atau hanya untuk
kepentingan konsumen saja ? Mengapa ? (15)
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
46
5. Mana yang lebih utama, pengendalian kualitas masukan, kualitas
proses ataukah pengendalian kualitas hasil ? Jelaskan ! (20)
2) Kunci Jawaban
1. Karena pengetahuan dan kemampuan mengelola proses produksi akan
menentukan keberhasilan perusahaan dalam mendapatkan laba. Hal
ini dikarenakan banyak aspek dan faktor yang harus diperhatikan dan
dipertimbangkan sebelum memutuskan barang apa yang akan
diproduski, bagaimana memproduksinya dan berapa banyak serta
apakah akan melakukan kombinasi produksi atau tidak.
2. Proses produksi terfokus pada tiga aspek:
a) Aspek produk apa yang akan diproduksi. Hal ini dimaksudkan agar
produk yang dihasilkan nantinya dapat diterima oleh
pasar/konsumen.
b) Aspek volume produksi. Hal ini selain dimaksudkan agar dapat
memenuhi permintaan pasar/konsumen juga agar tercapai skala
ekonomis.
c) Aspek kombinasi produksi. Hal ini berkaitan dengan keputusan
apakah perusahaan akan menghasilkan hanya satu jenis produk
atau lebih.
3. Kualitas menunjukkan atribut yang melekat pada suatu produk,
sehingga produk tersebut dikenal dan memiliki nilai. Pengendalian
kualitas diperlukan, karena pengendalian kualitas bertujuan untuk
mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan, baik bahan,
tenaga, waktu maupun kualitas barang jadi serta untuk memperbaiki
kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi baik sebelum, pada saat
maupun setelah proses produksi berlangsung.
4. Bagi produsen, awalnya kualitas produk memang ditujukan untuk
kepuasan konsumen sehingga konsumen menjadi tertarik untuk
menggunakan barang tersebut. Tetapi pada akhirnya kualitas barang
yang baik pada akhirnya juga menjadi kepuasan produsen, karena
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
47
dengan kualitas yang baik produknya menjadi laku dan itu akan
mendatangkan keuntungan bagi produsen.
5. Ketiganya sama penting, namun pengendalian kualitas masukan
menjadi pemegang kunci bagi kualitas akhir. Hal ini dikarenakan bila
masukan untuk proses produksi telah terkendali dengan baik, maka
proses produksipun akan berjalan baik dan pada kahirnya
menghasilkan output dengan kualitas yang baik pula. Namun
walaupun pendendalian masukan sudah dilakukan, pengendalian
proses dan hasil tetap dibutuhkan.
3) Kriteria Penilaian
Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban
Anda yang benar. Angka dalam kurung yang ada di belakang setiap nomor
menunjukkan skor nilai tiap nomor, yang kalau dijumlahkan skor
keseluruhannya adalah 100.
Selanjutnya, gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi kegiatan belajar modul ini.
Jumlah jawaban Anda yang benar
Tingkat penguasaan = X 100 %
100
Arti tingkat pemahaman Anda:
90 % - 100 % = amat baik dan sangat berhasil
80 % - 89 % = baik dan berhasil
70 % - 79 % = kurang berhasil
? 69 % = tidak berhasil
Tingkat kelulusan bisa dicapai bila Anda bisa menjawan minimal 80 % dari
soal-soal di atas. Kurang dari standar di atas Anda dinyatakan tidak lulus
dan dapat melanjutkan pada modul berikutnya.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
48
BAB III
PENUTUP
Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, berarti Anda
bagus dan berhasil dan Anda boleh mengajukan ujian sertifikasi ! Anda
dapat meneruskan pada modul 14. Tetapi, bila penguasaan Anda masih
dibawah 80 % Anda belum berhasil dan berarti Anda harus mengulangi
mempelajari kegiatan belajar pada modul ini, terutama bagian yang belum
Anda kuasai untuk mengajukan uji sertifikasi.
Modul 13, Pengelolaan Proses Produksi/Jasa
49
DAFTAR PUSTAKA
? Hendra Kusuma (2001), Manajemen Produksi, Perencanaan dan
Pengendalian Produksi, ANDI Yogyakarta.
? Lili Asdjudiredja dan Kusmana Permana (1990), Manajemen Produksi,
Armico Bandung.
? Mas’ud Machfoedz dan Mahmud Machfoedz (2002), Kewirausahaan,
Suatu Pendekatan Kontemporer, UPP AMP YKPN Yogyakarta.
? Mohammad jafar Hafsah (2000), Kemitraan Usaha, Kosepsi dan
Strategi, Pustakan Sinar harapan Jakarta.
? Pengestu Subagyo (2000), Manajemen Operasi, BPFE Yogyakarta.
? Pietra Sarosa (2004), Kiat Praktis Membuka Usaha - Langkah Awal
Menjadi Entrepreneur Sukses, PT Elekmedia Komputindo Jakarta.
? Soesarsono Wijanti (2000), Pengantar Kewiraswastaan , Sinar Baru
Algensindo, Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar